Wuaahhh . . Deadline tugas numpuk . . Pussing . . !!
ini nih akibatnya kalau terlalu sibuk dan gak bisa ngebagi waktu antara urusan
pribadi (terutama hobby yang menjadi obsesi) dan sekolah. Tugas Fisika, mading
edisi 3 yang lusa sudah harus ditempel, PR Matematika yang belum disentuh
(tugasnya aja gak tau yang mana . . hehehe . . J )
Oh
ya, lupa memperkenalkan nama. Aku Ririn, siswa kelas XI di salah satu SMA yang
cukup terkenal di kotaku. Aku hanya gadis biasa yang berasal dari keluarga yang
juga biasa – biasa saja. Tapi, aku cukup bahagia berada di lingkup keluarga
yang sangat sayang kepadaku.
Aku
punya satu hobby yang sangat kubanggakan, meskipun menurut ibu, hobby itu sudah
berubah menjadi obsesi. Aku sangat senang dengan sastra. Senang menulis dan
mengungkapkan isi hati dalam bentuk tulisan, baik itu puisi maupun cerita –
cerita pendek yang kadang alurnya tak jelas (maklum, masih amatir. . hahaha .
.)
Sejak
SMP, aku sering mengirim puisi – puisiku ke redaksi mading sekolah. Jika
tulisanku dimuat, aku mendapat kepuasan tersendiri. Hingga sekarang, aku
ketagihan untuk menulis dan bahkan terobsesi untuk mengarang sebuah buku, entah
itu berisi kumpulan puisi, cerpen ataupun sebuah novel. Menurut teman -
temanku, itu hanya akan jadi mimpi abadi. Ah, aku tak terlalu memperdulikannya.
Malam
sudah larut, aku masih sibuk dengan sebuah cerpenku. Meski kadang inspirasi
datang dan pergi semaunya, aku tetap berjuang keras. Tak jarang, aku ketiduran
di depan komputer rumah. Bahkan, aku sempat diomeli ayah karena komputer masih
menyala sampai pagi karena aku ketiduran saat mengerjakan tulisan – tulisanku L. Meski begitu, aku tak pernah menyerah untuk
melanjutkan perjuanganku untuk menjadi penulis dan berharap suatu saat ada
penerbit yang mau membukukan tulisan – tulisanku. Yah, aku harus tetap menjaga
semangat itu !
Aku
sangat kagum (bahkan terkadang iri) saat melihat penulis – penulis muda
berbakat yang berhasil meluncurkan bukunya. Salah satu dari mereka adalah Rei,
penulis berbakat (kalian harus tau, Rei itu kerrreen sekali) yang kini bahkan
sudah bisa mendirikan “ Rumah Bakat”, sebuah wadah perkumpulan untuk tempat
melatih para penulis berbakat dan tempat mencurahkan inspirasi mereka.
Hingga
suatu hari, saat pulang sekolah, aku melihat sosok yang selama ini kukagumi.
Yeah, itu Rei . . !! Ya ampunn !! Dia kelihatan bersahaja sekali. Tak lama
kemudian, aku melihat dia berjalan ke arahku. Oh no. . !! Aku celingak celinguk
ke belakang, memastikan bahwa tak ada orang lain di belakangku. Tak ada siapa
pun. Ternyata, dia memang menuju ke arahku. Oh oh oh. . ! My dream will be come
true !
“
Kamu Ririn Prastika ya ?,” sapanya sopan.
“ Ah,
iya. Ka, ka, kamu Rei kan ? Penulis berbakat sekaligus pendiri Rumah Bakat itu
kan?,” jawabku bersemangat dan mata berbinar - binar (bahkan penuh nafsu. .
jhahahaha)
Dia
tampak mengulum senyum. Aku jadi malu, mungkin reaksiku terlalu berlebihan.
Tapi, aku tak terlalu peduli tentang hal itu.
“ Ya,
kamu benar. Ada waktu ? Aku ada perlu denganmu sebentar,” tanyanya lagi.
Aku
berpikir sejenak. Sebenarnya aku ada les tambahan sore ini. Tapi, aku tiba –
tiba merasa sangat rugi untuk menolak ajakan si ganteng ini.
“
Ada, ada !!,” jawabku antusias (lagi – lagi dengan jawaban penuh nafsu dan
dengan wajah yang mungkin menjijaykan !! )
Lalu,
aku pun mengikuti langkahnya menuju mobil yang diparkir tak jauh dari gerbang
sekolahku. Ternyata Rei mengajakku ke Rumah Bakat. Dia menawarkan untuk
mengasah bakat menulisku karena tertarik membaca salah satu tulisan
(especially, cerpenku yang kadang tak jelas alurnya ) yang dimuat di sebuah
koran. Yang yang heboh lagi, dia menawarkan untuk membukukan dan menerbitkan
buku yang berisi kumpulan cerpen – cerpenku !!
“Ohlalalallalaaaa !! Sungguh tak dipercaya !! Is it
real ?? Big Yess !! ,” jeritku dalam hati.
Dalam sekejap, bukuku sudah dipasarkan. Dan diluar
perkiraanku, bukuku menjadi best seller dan mendatangkan royalti yang tentu
saja banyak untukku.
Namaku seketika melejit dan terkenal. Aku mengucapkan banyak
terima kasih kepada Rei. Lalu, aku pun diundang untuk hadir dalam salah satu
acara jumpa fans di salah satu mal besar dikotaku. Pengunjungnya membludak.
Mereka berebut untuk menyalamiku dan meminta tanda tanganku. Saat itu aku
merasa sangat sesak, penat, hebat dan heboh, hingga tiba – tiba........
“ Ririiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnn !!! Ngapain kamu tidur didepan
komputer lagi ? Kan udah dibilang berkali – kali, jangan terlalu sering
ngidupin komputer ! Bayar listriknya mahal tauk !!,” teriak ibuku pagi – pagi
buta.
Aku langsung terbangun dan mengucek - ngucek mata. Aku
mencari – cari sesuatu. Dimana Rei ? Dimana para fansku yang membludak tadi ??
Huhh ! Ternyata lagi – lagi aku tertidur didepan komputer saat mengerjakan
cerpen – cerpenku, lalu bermimpi.
Ahh. Aku segera beranjak mematikan komputer dan
bergegas ke kamar mandi. Tapi dalam hati, aku menjadi semangat dan akan lebih
serius lagi untuk menulis. Suatu saat. Pasti aku bisa menerbitkan bukuku. Ya,
suatu saat pasti akan terjadi . . .
No comments:
Post a Comment