Friday, June 7, 2013

Sesal Freya


 
          Punya pacar yang baik dan menyenangkan, tentu akan menyenangkan sekali. Setidaknya bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi juga berlaku untuk keluargaku. Tak heran, karena pacar terbaikku juga sangat akrab dengan keluargaku.

            Tommy, cowok manis, sopan dan berotak cemerlang, serta berasal dari keluarga berada yang selalu diantar sopir pribadinya kemana pun ia mau.

            Tapi siapa yang menyangka, dibalik kesempurnaannya itu, ada satu kekurangan yang selama ini tidak diketahui oleh teman – temannya, kecuali aku, pacarnya.

            Mau tahu ?? Sssstt, ini rahasia ! Aku beritahu ya.. Tommy itu tidak berani mengendarai sepeda motor.. Zaaapppp…!!! What ?? (reaksi kalian pasti akan sama denganku saat mengetahui kenyataan pahit ini. J ).. Hhahaahaaa… Tapi, tenang.. !! Hal itu tak akan mengurangi rasa sayangku padanya. Tapi, ada satu hal yang mengganjalku. Sampai kapan kami harus kencan dengan ditemani sopir pribadinya ? (kalian harus tahu, sopir itu harus ikut kemana pun kami kencan.. seperti lampu taman saja.. )

            Aku tak pernah keberatan saat ditawarkan semua kemewahan itu. Harus diantar jemput pakai mobil mewah, bagiku itu sudah lebih dari cukup. Tapi, aku juga ingin seperti gadis – gadis lainnya. Dijemput pacar saat pulang sekolah, pergi ke taman bersama pacarnya, jalan – jalan ke toko buku favorit kami, pergi nonton dan makan, serta melewati saat – saat romantis berdua saja, tanpa ditemani si lampu taman.

            Saat teman – temanku punya impian indah mempunyai pacar yang tampan dan kaya seperti Tommy Hardinata, aku sebagai pacar tersayangnya malah iri melihat sahabatku, Ratih yang selalu diantar jemput Riko, sang pacar, kemanapun mereka ingin pergi (tentu saja tanpa ditemani sopir pribadi seperti Tommy).

            Aku pernah mengutarakan hal ini saat kami makan di salah satu café. Sejenak aku melihat ekspresi aneh dari wajahnya. Matanya meyiratkan bahwa ia terkejut dengan keluhanku. Sorot mata penuh keterkejutan itu tetap aku ingat hingga aku tiba di rumah.

Setelah sering aku sindir dan mungkin ia bosan mendengar rengekanku, akhirnya Tommy menyanggupinya..

            Aihh, aku senang ! Akhirnya ia mau memberanikan diri dan berjuang demi memenuhi permintaanku.
            Hari pertama Tommy belajar mengendarai motor, ia masih takut dan kelihatan canggung. Aku berharap ia bisa melawan rasa takutnya.

            Sudah hampir seminggu Tommy menjalani proses “belajar” mengendarai sepeda motor. Dan kalian tahu siapa yang menjadi “instrukturnya” ?? Si lampu taman.. Hahahahaa . .

            Malam minggu tiba. Tommy dengan percaya diri mengutarakan niatnya untuk menjemputku. Tapi, kali ini berbeda. Kalau biasanya ia menjemputku beserta dengan “lampu taman”, kali ini ia akan datang menjemputku sendirian !! Dan menggunakan SEPEDA MOTOR ….. !! Wah, suatu hal yang mengejutkan. Akhirnya aku bisa melewatkan saat – saat berharga dengan pacarku tanpa gangguan dari lampu taman yang menyebalkan itu..

            Sebelum pukul 7, aku sudah bersiap – siap. Aku sengaja memakai pakaian yang biasa saja, karena aku tahu, malam ini tentu berbeda dengan malam – malam minggu sebelumnya. Jika biasanya aku memakai pakaian yang agak feminin karena kami menggunakan mobil, kali ini aku menggunakan pakaian yang casual dan santai,kemeja merah favoritku dan blue jeansku yang sudah agak belel, karena Tommy sendiri yang akan datang menjemputku dengan motor yang telah dibelikan orang tuanya.

            Pukul  7 kurang 5 menit, Tommy tiba di rumahku. Ia juga menggunakan kemeja yang senada denganku. Kesan santai, tapi juga tidak mengubah gayanya yang tegas dan berwibawa, walau aku tahu, sebenarnya ia lelaki yang lembut dan sopan.

            Setelah berpamitan dengan orang tuaku, kami segera berangkat. Meski tak punya arah tujuan yang pasti, tapi aku merasa sangat senang melewati malam itu bersamanya.

            Aku sadar kalau Tommy sebenarnya masih takut mengendarai motor. Bisa dilihat dari gelagatnya. Ia lebih memilih jalan – jalan yang tidak terlalu ramai untuk menghindari macet (karena kami tahu, saat malam minggu tiba, jalan – jalan protokol pasti sangat ramai dan macet). Selain itu, ia lebih memilih cara aman dengan mengambil jalur tepi di ruas kiri dan mengendarai motornya dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi. Hal itu mungkin untuk melindungi dan memberikan rasa aman padaku.

            Sebelum pukul 9, ia sudah memulangkan aku ke rumahku. Setelah ia berpamitan pulang, aku segera masuk kedalam rumah. Malam yang melelahkan karena aku beberapa kali mengalami spot jantung, karena tadi hampir beberapa kali kami hampir menabrak pinggir badan jalan.



            Dua jam kemudian…

            Aku tersadar karena tiba – tiba ada yang mengetuk pintu rumahku. Saat aku membuka pintu, kulihat Tommy berdiri didepan muka pintu.

            “ Tom, kamu belum pulang ?,” tanyaku dalam keadaan mengantuk.

            Tommy tak menjawab. Ia hanya tersenyum padaku.

            “Tom , kamu gak apa – apa kan ? Muka kamu pucat,” aku tiba – tiba khawatir melihat keadaannya.

            Tiba – tiba Tommy mendekat dan langsung memelukku. Aku terkejut dengan reaksinya.

            “ Freya, aku cuma mau bilang kalau aku sayang sama kamu. Kamu harus bisa jaga diri ya. Kamu harus janji demi aku. Apapun yang terjadi, kamu harus ingat, aku sayang sama kamu,” ucapnya dengan berat dan suara yang lembut.

            Aku pun mengangguk. Setelah mengatakan itu, Tommy segera pulang. Aku pun langsung masuk ke dalam kamarku. Walaupun agak sedikit bingung dengan tingkah Tommy, aku pun mencoba merebahkan tubuhku saat handphoneku tiba – tiba berbunyi. Private number. Sejenak aku ragu, lalu kuberanikan diri untuk mengangkatnya.

            “ Hallo..,” jawabku dengan ragu.

            “ Halo Freya. Ini pak Ngadiman,” jawab suara di seberang sana.

            Hah ?? Si lampu taman.. ! Ada perlu apa dia meneleponku malam – malam begini.

            “ Nak Freya, Tommy mengalami kecelakaan saat akan pulang ke rumah. Dia mengalami luka cukup parah.Dan…. , “ kalimatnya menggantung.

            Aku terdiam mendengar kelanjutan kalimatnya.

            “ Dan, nak Tommy telah meninggal 15 menit yang lalu. Sekarang jenazahnya masih berada di rumah sakit,” beber Pak Ngadiman dengan suara serak.

            Aku tercengang sejenak. Seketika kepalaku terasa berat. Mana mungkin ini terjadi. Tommy baru saja pulang dari rumahku.

            “ Gak mungkin. Tommy baru saja pulang dari rumah !! Pak Ngadiman pasti salah.. Itu gak mungkin !!,” aku tiba – tiba histeris.

            Pak Ngadiman berusaha menenangkanku lewat telepon, tapi usahanya sia – sia karena aku semakin histeris seperti kerasukan.

            Aku tergugu menahan tangisku. Dadaku tiba – tiba terasa sesak. Bayangan Tommy tiba – tiba terlintas. Ini pasti hanya gurauan belaka. Tommy baru saja pulang dari rumahku. Mama menggedor – gedor pintu kamarku. Tampaknya ia khawatir mendengar teriakanku. Aku menguatkan diri untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka, aku sempat melihat sosok mama berdiri di depan pintu, sebelum semuanya berubah menjadi gelap.


           
            Keesokan harinya, aku duduk termangu didepan sebuah makam yang masih basah.
TOMMY HARDINATA
BIN ARIEF HARDINATA

LAHIR : 21 APRIL 1992
WAFAT : 25 DESEMBER  2009
 
                       








      “ Freya, aku cuma mau bilang kalau aku sayang sama kamu. Kamu harus bisa jaga diri ya. Kamu harus janji demi aku. Apapun yang terjadi, kamu harus ingat, aku sayang sama kamu ”



             Kalimat terakhir itu selalu terlintas di benakku. Aku masih tak percaya dengan semua yang terjadi. Sejenak aku berpikir, itulah saat terakhir aku dipeluk Tommy. Pertemuan kami malam itu merupakan hal terakhir yang bisa kukenang. Mungkin itu merupakan salah satu pertanda yang diberikan Tommy saat kepergiannya untukku. Hingga pemakaman selesai, aku masih saja menyalahkan diriku atas semua yang terjadi.

Aku adalah pembunuh terselubung. Aku yang menyebabkan pacar terbaikku meninggal. Aku sangat menyesali keegoanku. Hanya karena alasan tak ingin kencan ditemani lampu taman, aku harus menerima resiko harus kehilangan Tommy.

Setelah peristiwa itu, aku menyadari bahwa cinta harus bisa menerima kelebihan dan kekurangan. Tak perlu memaksakan segala sesuatu, karena semua yang dipaksakan, hasilnya tak akan maksimal. Dan kalian harus tahu, kehilangan seseorang yang disayang karena ulah sendiri tentu hanya akan jadi kesalahan yang takkan termaafkan.

No comments:

Post a Comment