Punya
pacar yang baik dan menyenangkan, tentu akan menyenangkan sekali. Setidaknya
bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi juga berlaku untuk keluargaku. Tak
heran, karena pacar terbaikku juga sangat akrab dengan keluargaku.
Tommy, cowok manis, sopan dan berotak cemerlang, serta
berasal dari keluarga berada yang selalu diantar sopir pribadinya kemana pun ia
mau.
Tapi siapa yang menyangka, dibalik kesempurnaannya itu,
ada satu kekurangan yang selama ini tidak diketahui oleh teman – temannya,
kecuali aku, pacarnya.
Mau tahu ?? Sssstt, ini rahasia ! Aku beritahu ya.. Tommy
itu tidak berani mengendarai sepeda motor.. Zaaapppp…!!! What ?? (reaksi kalian
pasti akan sama denganku saat mengetahui kenyataan pahit ini. J
).. Hhahaahaaa… Tapi, tenang.. !! Hal itu tak akan mengurangi rasa sayangku
padanya. Tapi, ada satu hal yang mengganjalku. Sampai kapan kami harus kencan
dengan ditemani sopir pribadinya ? (kalian harus tahu, sopir itu harus ikut
kemana pun kami kencan.. seperti lampu taman saja.. )
Aku tak pernah keberatan saat ditawarkan semua kemewahan
itu. Harus diantar jemput pakai mobil mewah, bagiku itu sudah lebih dari cukup.
Tapi, aku juga ingin seperti gadis – gadis lainnya. Dijemput pacar saat pulang
sekolah, pergi ke taman bersama pacarnya, jalan – jalan ke toko buku favorit
kami, pergi nonton dan makan, serta melewati saat – saat romantis berdua saja,
tanpa ditemani si lampu taman.
Saat teman – temanku punya impian indah mempunyai pacar
yang tampan dan kaya seperti Tommy Hardinata, aku sebagai pacar tersayangnya
malah iri melihat sahabatku, Ratih yang selalu diantar jemput Riko, sang pacar,
kemanapun mereka ingin pergi (tentu saja tanpa ditemani sopir pribadi seperti
Tommy).
Aku pernah mengutarakan hal ini saat kami makan di salah satu
café. Sejenak aku melihat ekspresi aneh dari wajahnya. Matanya meyiratkan bahwa
ia terkejut dengan keluhanku. Sorot mata penuh keterkejutan itu tetap aku ingat
hingga aku tiba di rumah.
Setelah sering aku
sindir dan mungkin ia bosan mendengar rengekanku, akhirnya Tommy
menyanggupinya..
Aihh, aku senang ! Akhirnya ia mau memberanikan diri dan
berjuang demi memenuhi permintaanku.
Hari pertama Tommy belajar mengendarai motor, ia masih
takut dan kelihatan canggung. Aku berharap ia bisa melawan rasa takutnya.
Sudah hampir seminggu Tommy menjalani proses “belajar”
mengendarai sepeda motor. Dan kalian tahu siapa yang menjadi “instrukturnya” ??
Si lampu taman.. Hahahahaa . .
Malam minggu tiba. Tommy dengan percaya diri mengutarakan
niatnya untuk menjemputku. Tapi, kali ini berbeda. Kalau biasanya ia
menjemputku beserta dengan “lampu taman”, kali ini ia akan datang menjemputku
sendirian !! Dan menggunakan SEPEDA MOTOR ….. !! Wah, suatu hal yang
mengejutkan. Akhirnya aku bisa melewatkan saat – saat berharga dengan pacarku
tanpa gangguan dari lampu taman yang menyebalkan itu..
Sebelum pukul 7, aku sudah bersiap – siap. Aku sengaja
memakai pakaian yang biasa saja, karena aku tahu, malam ini tentu berbeda
dengan malam – malam minggu sebelumnya. Jika biasanya aku memakai pakaian yang
agak feminin karena kami menggunakan mobil, kali ini aku menggunakan pakaian
yang casual dan santai,kemeja merah favoritku dan blue jeansku yang sudah agak
belel, karena Tommy sendiri yang akan datang menjemputku dengan motor yang
telah dibelikan orang tuanya.
Pukul 7 kurang 5
menit, Tommy tiba di rumahku. Ia juga menggunakan kemeja yang senada denganku.
Kesan santai, tapi juga tidak mengubah gayanya yang tegas dan berwibawa, walau
aku tahu, sebenarnya ia lelaki yang lembut dan sopan.
Setelah berpamitan dengan orang tuaku, kami segera
berangkat. Meski tak punya arah tujuan yang pasti, tapi aku merasa sangat
senang melewati malam itu bersamanya.
Aku sadar kalau Tommy sebenarnya masih takut mengendarai
motor. Bisa dilihat dari gelagatnya. Ia lebih memilih jalan – jalan yang tidak
terlalu ramai untuk menghindari macet (karena kami tahu, saat malam minggu
tiba, jalan – jalan protokol pasti sangat ramai dan macet). Selain itu, ia
lebih memilih cara aman dengan mengambil jalur tepi di ruas kiri dan
mengendarai motornya dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi. Hal itu
mungkin untuk melindungi dan memberikan rasa aman padaku.
Sebelum pukul 9, ia sudah memulangkan aku ke rumahku.
Setelah ia berpamitan pulang, aku segera masuk kedalam rumah. Malam yang
melelahkan karena aku beberapa kali mengalami spot jantung, karena tadi hampir
beberapa kali kami hampir menabrak pinggir badan jalan.
Dua jam kemudian…
Aku tersadar karena tiba – tiba ada yang mengetuk pintu
rumahku. Saat aku membuka pintu, kulihat Tommy berdiri didepan muka pintu.
“ Tom, kamu belum pulang ?,” tanyaku dalam keadaan
mengantuk.
Tommy tak menjawab. Ia hanya tersenyum padaku.
“Tom , kamu gak apa – apa kan ? Muka kamu pucat,” aku
tiba – tiba khawatir melihat keadaannya.
Tiba – tiba Tommy mendekat dan langsung memelukku. Aku
terkejut dengan reaksinya.
“ Freya, aku cuma mau bilang kalau aku sayang sama kamu.
Kamu harus bisa jaga diri ya. Kamu harus janji demi aku. Apapun yang terjadi,
kamu harus ingat, aku sayang sama kamu,” ucapnya dengan berat dan suara yang
lembut.
Aku pun mengangguk. Setelah mengatakan itu, Tommy segera
pulang. Aku pun langsung masuk ke dalam kamarku. Walaupun agak sedikit bingung
dengan tingkah Tommy, aku pun mencoba merebahkan tubuhku saat handphoneku tiba
– tiba berbunyi. Private number. Sejenak aku ragu, lalu kuberanikan diri untuk
mengangkatnya.
“ Hallo..,” jawabku dengan ragu.
“ Halo Freya. Ini pak Ngadiman,” jawab suara di seberang
sana.
Hah ?? Si lampu taman.. ! Ada perlu apa dia meneleponku
malam – malam begini.
“ Nak Freya, Tommy mengalami kecelakaan saat akan pulang
ke rumah. Dia mengalami luka cukup parah.Dan…. , “ kalimatnya menggantung.
Aku terdiam mendengar kelanjutan kalimatnya.
“ Dan, nak Tommy telah meninggal 15 menit yang lalu.
Sekarang jenazahnya masih berada di rumah sakit,” beber Pak Ngadiman dengan
suara serak.
Aku tercengang sejenak. Seketika kepalaku terasa berat.
Mana mungkin ini terjadi. Tommy baru saja pulang dari rumahku.
“ Gak mungkin. Tommy baru saja pulang dari rumah !! Pak
Ngadiman pasti salah.. Itu gak mungkin !!,” aku tiba – tiba histeris.
Pak Ngadiman berusaha menenangkanku lewat telepon, tapi
usahanya sia – sia karena aku semakin histeris seperti kerasukan.
Aku tergugu menahan tangisku. Dadaku tiba – tiba terasa
sesak. Bayangan Tommy tiba – tiba terlintas. Ini pasti hanya gurauan belaka.
Tommy baru saja pulang dari rumahku. Mama menggedor – gedor pintu kamarku.
Tampaknya ia khawatir mendengar teriakanku. Aku menguatkan diri untuk membuka
pintu. Saat pintu terbuka, aku sempat melihat sosok mama berdiri di depan pintu,
sebelum semuanya berubah menjadi gelap.
Keesokan harinya, aku duduk termangu didepan sebuah makam
yang masih basah.
TOMMY HARDINATA
BIN ARIEF HARDINATA
LAHIR : 21 APRIL 1992
WAFAT : 25 DESEMBER 2009
|
“ Freya, aku cuma mau bilang kalau aku
sayang sama kamu. Kamu harus bisa jaga diri ya. Kamu harus janji demi aku.
Apapun yang terjadi, kamu harus ingat, aku sayang sama kamu ”
Kalimat terakhir itu selalu terlintas di
benakku. Aku masih tak percaya dengan semua yang terjadi. Sejenak aku berpikir,
itulah saat terakhir aku dipeluk Tommy. Pertemuan kami malam itu merupakan hal
terakhir yang bisa kukenang. Mungkin itu merupakan salah satu pertanda yang
diberikan Tommy saat kepergiannya untukku. Hingga pemakaman selesai, aku masih
saja menyalahkan diriku atas semua yang terjadi.
Aku
adalah pembunuh terselubung. Aku yang menyebabkan pacar terbaikku meninggal.
Aku sangat menyesali keegoanku. Hanya karena alasan tak ingin kencan ditemani
lampu taman, aku harus menerima resiko harus kehilangan Tommy.
Setelah
peristiwa itu, aku menyadari bahwa cinta harus bisa menerima kelebihan dan
kekurangan. Tak perlu memaksakan segala sesuatu, karena semua yang dipaksakan,
hasilnya tak akan maksimal. Dan kalian harus tahu, kehilangan seseorang yang
disayang karena ulah sendiri tentu hanya akan jadi kesalahan yang takkan
termaafkan.
No comments:
Post a Comment