Monday, June 24, 2013

Ospek, Premanisme atau Sarana Pembentukan Karakter di Dunia Kemahasiswaan ?





Kemarin saat bertandang ke kampus pusat, saya bertemu dengan segerombolan anak muda, yang sepertinya calon mahasiswa baru di kampus. Melihat mereka, saya teringat tentang tahun ajaran baru yang akan segera dimulai, dengan segala tetek bengek dan keribetan didalamnya. Ada banyak sekali tradisi menjelang tahun ajaran baru. Tentu, disetiap kampus atau jurusan akan beda dalam melakukan ritualnya maisng – masing. Yang selalu ada secara turun temurun pastinya budaya ospek. Hmmm, ospek ?? Apa sih ospek itu?
Ospek, singkatan dari orientasi dan pengenalan lingkungan kampus, adalah suatu acara yang diadakan oleh pihak kampus untuk menyambut mahasiswa baru. Para mahasiswa baru tersebut dapat dikatakan sebagai anggota baru dari keluarga besar sivitas akademika fakultas. Karenanya, ospek boleh dikata sebagai suatu momen untuk menyambut sekaligus memperkenalkan lingkungan yang relatif baru kepada mahasiswa baru.

Pada umumnya, ospek selalu diasosiasikan dengan hal negatif bagi sebagian orang. Sebagai contoh, terkadang orang (termasuk mahasiswa baru) membayangkan ospek sebagai kegiatan/ajang balas dendam senior kepada juniornya, sehingga dipenuhi oleh tindakan-tindakan kasar, aneh, tidak rasional, dan umumnya ‘menyiksa’ mahasiswa baru. Ada yang menganggap bahwa ospek dipenuhi oleh kekerasan fisik dan mental, seperti tampar-menampar, olahraga fisik yang berlebihan, atau hukuman bagi para junior yang dianggap tidak logis. Pemberitaan media massa setiap tahunnya juga tidak bisa luput dari cerita mengenai kekerasan selama ospek, yang berujung kepada derita mahasiswa baru (baik fisik maupun mental), hingga ada yang meninggal.
Bahkan, sewaktu saya terlibat dalam panitia ospek di kampus, seorang ibu (orangtua dari mahasiswa baru) yang ikut mengantar anaknya hingga ke depan pintu gerbang kampus mewanti-wanti saya agar tidak melakukan kekerasan apapun, baik fisik maupun mental. Ibu tersebut beranggapan bahwa ospek adalah kegiatan yang penuh kekerasan, sehingga tidak aman baginya untuk melepas anaknya sendirian mengikuti ospek. Hal itu, menurut saya, mewakili anggapan dari banyak orang mengenai ospek.
Dengan adanya suatu anggapan bahwa kegiatan ospek selalu dipenuhi oleh kekerasan, baik fisik maupun mental, melahirkan suatu pandangan masyarakat (termasuk mahasiswa baru) bahwa ospek tidak lebih dari ajang balas dendam. Jika dulu para senior yang diospek (‘merasakan penderitaan’), maka kini mereka membalaskan rasa ‘sakit hatinya’ kepada junior yang baru masuk, dan hal tersebut membentuk suatu ‘mata rantai’ (senior-junior-dan seterusnya) yang tidak pernah putus. Sehingga dikatakan bahwa ospek sesungguhnya tidak lebih pewarisan budaya premanisme/militerisme di lingkungan kampus.
OSPEK YANG BENAR
Sesuai namanya, ospek haruslah merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengenalkan dan mengorientasikan mahasiswa baru kepada lingkungan dan kehidupan kampus. Maka segala kegiatan yang akan dilakukan saat ospek harus bertujuan dan memberikan manfaat positif kepada mahasiswa baru. Jangan sampai mereka melakukan sesuatu yang justru tidak ada manfaatnya bagi diri mereka.
Ada kalanya dalam kegiatan ospek kampus tertentu, para mahasiswa baru diharuskan melakukan/membawa sesuatu yang aneh, misalnya:
  • disuruh mengenakan petai/jengkol yang digantung di leher,
  • kaleng minuman kosong berisi batu kerikil yang dililitkan di pinggang,
  • membawa keranjang sampah, dan sebagainya.
Ini adalah contoh ospek yang salah, karena hal tersebut tidak ada manfaatnya bagi para mahasiswa baru. Mereka melakukannya semata-mata hanya untuk memenuhi perintah senior, di mana para senior menjadikan hal tersebut sebagai sarana mengolok-olok mahasiswa baru. Ospek yang seperti ini harus dihindari.
Di dalam ospek yang benar, segala tugas/perintah yang wajib dilakukan oleh mahasiswa baru selama ospek harus memberikan manfaat positif/pengetahuan baru kepada mereka. Jangan sampai mahasiswa baru melakukan sesuatu hal yang bersifat sia-sia bagi mereka, dan bahkan menjatuhkan diri mereka di hadapan seniornya. Harus ada esensi yang bisa diambil dari setiap hal yang dilakukan dan bersifat baik untuk kehidupan mereka di kampus selanjutnya, misalnya:
  • Menumbuhkan kekompakan di dalam satu angkatan,
  • Menambah pengetahuan,
  • Menimbulkan rasa kepemimpinan (leadership),
  • Melepaskan kepribadian SMA yang kurang baik, dan beralih kepada kepribadian mahasiswa yang baik,
  • Dan lain-lain.
Pelaksanaan ospek juga harus mengikutsertakan, atau setidaknya diketahui oleh pihak dekanat fakultas. Sehingga ospek tersebut bukanlah suatu kegiatan ilegal yang diselenggarakan oleh pihak mahasiswa tanpa ada kontrol dari pihak yang lebih tinggi. Kehadiran pihak dekanat fakultas sebagai pelindung sekaligus pembimbing kegiatan akan membuat kegiatan ospek berlangsung dengan baik dan benar, sekaligus mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.


KEKERASAN SELAMA OSPEK
Mengenai hal ini, saya menyerukan satu hal: tidak boleh ada kekerasan, dalam bentuk apapun, selama kegiatan ospek. Pengalaman sudah membuktikan, bahwa kekerasan baik fisik maupun mental, hanya membawa dampak negatif terhadap peserta ospek. Kekerasan fisik telah menimbulkan kematian pada beberapa kasus, baik karena kekerasan fisik secara langsung (dipukul, ditendang, ditampar, dsb) maupun yang tidak langsung (seperti disuruh memikul batu bata sambil jalan kaki dengan jarak yang lumayan jauh, berjalan mendaki, dsb). Tidak ada satu alasan pun yang mampu membenarkan adanya kekerasan fisik dan mental selama kegiatan ospek. Mahasiswa baru bukanlah (maaf) binatang, atau benda mati yang dapat diperlakukan semena-mena sesuai keinginan senior. Mereka juga adalah manusia, sama seperti seniornya, yang memiliki batas ketahanan fisik dan mental. Perlakuan yang melanggar ketahanan fisik dan mental peserta merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Panitia ospek harus menjunjung tinggi hal tersebut.
Selama kegiatan, panitia ospek diwajibkan memberi teladan kepada mahasiswa baru. Keteladanan tersebut dapat berupa sikap kedisiplinan, keseriusan, berpikir kritis, berjiwa kepemimpinan dan kekompakan sesama mahasiswa. Tidak ada hal buruk yang dicontohkan oleh panitia ospek kepada mahasiswa baru.
Selain itu ada juga tugas yang bertujuan untuk menumbuhkan kekompakan sesama mahasiswa baru di dalam satu angkatan, seperti membuat yel-yel bersama atau jargon angkatan. Tidak ada tugas yang bersifat sia-sia, apalagi melecehkan mahasiswa baru.
KESIMPULAN
Ospek yang baik adalah kegiatan, yang sesuai dengan namanya, yaitu untuk mengenalkan dan mengorientasikan mahasiswa baru terhadap lingkungan kampus. Tidak boleh ada kekerasan, yang justru menjatuhkan mahasiswa baru baik fisik maupun mental. Sebaliknya, mereka perlu dibekali dengan pengetahuan dan kedekatan terhadap almamater demi menumbuhkan jiwa kemahasiswaan yang baik dan rasa sebagai bagian dari keluarga besar civitas akademika fakultas. Hendaknya kegiatan ospek yang menyimpang dan penuh kekerasan tidak dilakukan lagi, dan diganti dengan kegiatan ospek yang bermanfaat bagi para mahasiswa.


Bila ospek hanya diarahkan pada orientasi akademik, seperti pengenalan kampus atau akademik, maka tentu akan banyak penentangan dari para senior. Karena bagi mereka esensi ospek bukan (hanya) di situ
Berdasarkan teori motivasi klasik, ada dua model pemotivasian yang bisa dikenakan: teori X dan teori Y;
Dalam teori X
  • Orang2 dianggap malas by default, dan akan menghindari kerja’an sebisa mungkin
  • Bahwa mereka perlu diawasi dg ketat
  • Terhadap mereka perlu diterapkan gaya otoriter atas dasar hukuman dan ancaman
Dalam teori Y
  • Menganggap orang2 memiliki kecenderungan utk self-motivated, ambisius, bersemangat dlm menerima tanggung jawab yg lebih besar,
  • Mereka akan bisa kreatif bila diberi kesempatan
  • Mereka akan lebih produktif ketika diberi kebebasan & atmosfer kondusif
  • Motivasi didapat dari rasa puas karena telah menyelesaikan tugas dg baik
Nyatanya, kebanyakan maba masih enggan untuk berpindah dari zona nyaman mereka untuk berperilaku baik yang belum jadi kebiasaan mereka. Ekspektasi bahwa mereka secara umum memiliki tanggung jawab, kepedulian, kemauan untuk berubah, kesediaan untuk berempati dan berkorban, dsb hanya akan berakhir dengan kekecewaan.
Kedisiplinan, percaya diri, ketangguhan mental dst memang harus berakar dari dalam pribadi, namun dalam kasus mahasiswa baru yang notabene adalah mantan anak SMA, penumbuhan karakter produktif dengan cara melulu ceramah dan himbauan bergaya quantum learning yang penuh ceria dan kesenangan kuranglah efektif. Sebaik2nya penceramah menyampaikan materi seven habits dan getting things done, masih akan lebih banyak dari maba yang sekedar menjadikan itu semua sebagai wawasan (yg akan segera dilupakan), dan bukannya untuk dilaksanakan dan dijadikan kebiasaan.
Mereka yang mampu menunjukkan sikap produktif di perkuliahan umumnya adalah mereka yang semenjak SMA sudah punya sikap dan kebiasaan produktif itu. Sementara lebih banyak mantan-anak-SMA yang masih memelihara sifat hedon, indisiplin, impulsif dan pragmatis. Hedon dalam artian lebih suka bersenang2 ketimbang mengondisikan diri untuk melakukan kebaikan dalam kondisi tak nyaman (misal lebih suka ngegame ketimbang ngerjakan PR tanpa mencontek, enggan untuk berkenalan dengan seluruh teman di angkatan). Indisiplin dalam artian kurangnya kemampuan mengontrol, mengendalikan dan mendisiplinkan diri (misal kurang mampu menumbuhkan apalagi memelihara kebiasaan belajar rutin setiap hari atau untuk menjaga kualitas kesehatan dg berolahraga teratur). Impulsif dalam artian tidak mampu menahan diri dari menunda kesenangan untuk hal2 yang lebih berguna (misal tak bisa menahan diri dari ngegame, nonton film, beli barang2 kesenangan, dsb). Pragmatis dalam artian belum bisa (atau belum ingin) berpikir jauh ke depan, hanya berpikir yang saat ini dan di sini.
Artinya perlu disadari bahwa sasaran dari Ospek bukanlah para mahasiswa, melainkan (mantan) anak-SMA. Saya telah cukup lama berinteraksi dengan anak SMA dalam pelatihan, dan berinteraksi dengan guru mereka.
Sehingga pendidikan tegas semi militer akan jadi pengondisian yang baik untuk mahasiswa baru. Dengan ini saya tidak memaksudkan untuk sekedar mengambil cuplikan2 aktivitas militer seperti baris berbaris.
Jangan mentang sesuatu mengandung kekerasan maka langsung dilabeli gaya militeristik. Dan jangan pula kemudian metodologi militeristik dicela habis-habisan gara - gara ada amatiran yang meniru model pendidikan ala militer dg penuh salah kaprah.
Lantas yang perlu juga jadi catatan penting, pendidikan ala militer yang sesungguhnya bukanlah seperti yang ditunjukkan oleh IPDN/STPDN. Dalam pola pendidikan militer tidak ada pemukulan dan penyiksaan sadis ala praja IPDN yang menyebabkan tewasnya seseorang. Di Akmil, cara kekerasan sudah dihapus sejak tahun 1971. Tidak ada ceritanya dalam pendidikan militer yunior ditutup kepalanya dengan plastik lalu dipukuli ramai-ramai oleh seniornya. Model ospek di IPDN/STPDN adalah militer jalanan, dan bukan pendidikan militer yang sesungguhnya.
Dalam ospek yang tak ideal, kita tidak melihat adanya keteladanan dari senior. Ketika mereka bicara tentang kedisiplinan dan kemampuan menata aktivitas diri secara teratur, mereka ternyata tidak menunjukkan itu dalam keseharian mereka. Berbeda dengan pembina dari TNI; ketika mereka bicara tentang ketegasan, kedisplinan dan nilai lain, mereka pun juga menampakkan dalam keseharian.
Termasuk juga cara menghukum. Masih banyak kasus di mana senior belum bisa membuat ukuran hukuman yang proporsional. Sanksi apapun yang diberikan, maka tidak boleh sampai mengakibatkan kecacatan baik fisik maupun emosi (trauma), apalagi menimbulkan kematian. Karena tujuannya adalah untuk membina, bukannya membinasakan. Namun sayangnya banyak mahasiswa senior yang ketika sudah masuk sesi perploncoan kurang bisa mengendalikan diri dan akhirnya kalap dan kebablasan.
Sementara pendidik dari TNI paham betul tentang bagaimana membentuk fisiologi produktif; bahwa jikapun sedang dilakukan evaluasi keras, sasaran tidak boleh menunduk dan bungkuk, karena sikap demikian malah membuat mereka tak bisa berpikir. Dan jikapun ada instruksi tegas, bentakan dan omelan, pendidik dari TNI tidak perlu sampai berada dalam state marah apalagi kalap, karena mereka telah paham bagaimana cara menunjukkan ketegasan dan bahkan kemarahan tanpa betul - betul dalam hati merasa marah.
Sehingga memang lebih pantas kalau pihak militer sendiri yang meng-ospek mahasiswa baru, dengan beberapa modifikasi dalam hal muatan dan konteks pengondisian. Misal saja, kita tidak perlu mengadopsi nilai-nilai berikut dari sistem militer:
  • Sistem hierarki militer yang begitu kuat. Padahal dalam kehidupan kampus tidaklah demikian. Respek yang diberikan oleh yunior bukan didasarkan atas senioritas, melainkan lebih karena sang Senior memang memiliki kualifikasi yang pantas untuk dihormati (lebih berilmu, lebih berwawasan, lebih bijak, dst).
  • Pun juga, di kampus tidak ada istilah senior tidak dapat salah atau kepatuhan/taklid secara buta dari yunior kepada senior. Sebagai teladan, senior harus punya rasa malu dan awas diri yang lebih besar, dan yunior punya hak dan keleluasaan untuk mengingatkan dengan cara2 yang lebih luwes ketimbang di militer.


Tujuan Ospek
Adapun tujuan OSPEK adalah:
1.   Mengenal dan memahami lingkungan kampus sebagai suatu lingkungan akademis serta memahami mekanisme yang berlaku di dalamnya.
2.   Menambah wawasan mahasiswa baru dalam penggunaan sarana akademik yang tersedia .
3.   Memberikan pemahaman awal tentang wacana keagamaan dan kebangsaan serta pendidikan yang mencerdaskan berdasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan.
4.   Mempersiapkan mahasiswa agar mampu belajar di Perguruan Tinggi serta mematuhi dan melaksanakan norma-norma yang berlaku
5.  Menumbuhkan rasa persaudaraan kemanusiaan di kalangan civitas akademika dalam rangka menciptakan lingkungan kampus yang nyaman, tertib, dan dinamis
6.  Menumbuhkan kesadaran mahasiswa baru akan tanggungjawab akademik dan sosialnya sebagaimana tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi

Fungsi OSPEK
OSPEK merupakan kelengkapan non-struktural pada. Adapun fungsi OSPEK adalah sebagai:
  1. Fungsi orientasi bagi mahasiswa baru untuk memasuki dunia Perguruan Tinggi yang berbeda dengan belajar di sekolah lanjutan.
  2. Fungsi komunikatif yakni komunikasi antara civitas akademika dan pegawai administrasi .
  3. Fungsi normatif yakni mahasiswa baru mulai memahami, menghayati dan mengamalkan aturan-aturan yang berlaku .
  4. Fungsi akademis yakni pengembangan intelektual, bakat, minat dan kepemimpinan mahasiswa.


















































No comments:

Post a Comment